continued from part II
lalu, apa yang menjadi masalah? lampu yang berpijar, penanak nasi, kipas angin, mesin cuci, semuanya menyerap energi listrik dan menyediakan energi yang kita butuhkan. lampu menyediakan cahaya, penanak nasi menyediakan panas, kipas angin menyediakan angin, mesin cuci menyediakan putaran. cahaya, panas, angin, dan putaran tersebut tidaklah disimpan, mereka dipakai dan tidak akan pernah dikembalikan lagi ke sumber*. di sini menjadi jelas bahwa, kita menginginkan daya aktif, daya yang bisa kita pakai, bukan untuk disimpan sebagaimana daya imajiner.
*)walaupun proses sebaliknya adalah mungkin untuk dilakukan (dan pada kenyataannya proses yang demikian memang sudah ada/terwujud), yaitu misalnya mengubah energi angin menjadi listrik, kita tidak menyebutnya sebagai penyimpanan energi listrik dalam energi angin. penyimpanan energi yang kita maksudkan adalah dalam medan listrik pada kapasitor maupun medan magner pada induktor.
untuk suatu faktor daya tertentu, semakin besar daya aktif yang kita butuhkan, semakin besar pula daya imajiner yang muncul, begitu juga dengan daya kompleks yang dikirim. daya kompleks yang semakin besar, berarti untuk suatu tegangan tertentu, arus yang mengalir akan lebih besar. menyediakan arus yang besar ini tidaklah menguntungkan dari segi ekonomi dan teknik. oleh karena itu, kita memerlukan perbaikan faktor daya, sehingga daya kompleks yang dikirimkan dapat secara optimal dipakai sebagai daya aktif, bukan disimpan sebagai daya imajiner, dengan kata lain, kenaikan arus yang kita bicarakan sebelumnya cukup sewajarnya saja sesuai kenaikan permintaan daya aktifnya dan tidak terlalu dipengaruhi oleh daya imajiner.
namun, yang mengejutkan adalah kelihatannya, mau tidak mau, untuk mendapatkan daya aktif, sering kita harus mengalokasikan sebagian daya kompleks dalam bentuk daya imajiner. hanya sedikit alat listrik yang dapat memakai daya aktif tanpa harus mengalokasikan daya imajiner, misalnya saja lampu pijar karena ia adalah beban resistif. memang harus diakui bahwa daya imajiner dengan sendirinya akan muncul dan tidak dapat terhindarkan karena ketidakidealan** alat listrik. namun, kebutuhan kita akan daya imajiner lebih dari sekadar karena ketidakidealan suatu alat listrik seperti itu. daya imajiner sungguh-sungguh sengaja diadakan. daya imajiner seolah-olah telah menjadi suatu syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat memperoleh daya aktif. memang tampak aneh, tetapi ini sungguh-sungguh terjadi.
**)pada kenyataanya, tidak ada resistor ideal (begitu juga kapasitor dan induktor). resistor yang ada tetap mengandung kapasitor dan induktor (dan sebaliknya), walaupun nilainya sangat kecil. oleh karena itu, baban resistif seperti lampu pijar, lebih tepat disebut sebagai beban yang dianggap resistif, karena daya imajinernya tetap ada, tetapi begitu kecilnya sehingga dapat diabaikan.
dalam berbagi proses konversi yang kita kenal dari energi listrik menjadi bentuk energi lain yang kita inginkan, prinsip-prinsip yang dipakai mengharuskan kita mengalokasikan sebagian daya kompleks sebagai daya imajiner. misalnya pada mesin listrik, katakanlah pompa air, kita menggunakan prinsip induksi Faraday dan gaya Lorentz, kedua-duanya menggunakan medan magnet sebagai perantara saat mengkonversi energi listrik menjadi putaran motor. yang kita inginkan tentu adalah putaran motor, tetapi putaran motor itu tidak akan pernah ada jika kita tidak mengubah (menyimpan) energi listrik ke dalam medan magnet terlebih dahulu. medan magnet itu dibentuk di kumparan motor, yang tidak lain adalah induktor. maka tak mengherankan jika kabanyakan alat listrik yang kita pakai bersifat induktif: pompa air, mesin cuci, kulkas, kipas angin, dll***. sampai di sini, kita simpulkan bahwa kita tidak memakai daya imajiner (dan memang tidak bisa), melainkan kita hanya membutuhkan perannya dalam konversi energi listrik ke energi lainnya.
***)begitu pentingnya, sampai-sampai suatu matakuliah khusus telah dibuat untuk mengakomodasi kenyataan ini, yaitu matakuliah mesin listrik.
BERSAMBUNG
Read more...