sehabis ikut seminar... part II

>> Saturday, December 27, 2008



salah satu presentasi yang menarik bagi saya adalah presentasi dari pak Ridy, dosen it di jurusan saya. beliau menyampaikan bahwa salah satu solusi yang ditawarkan dari sisi software development untuk mendukung kampanye green computing adalah coding yang waktu eksekusinya lebih cepat dari coding biasa untuk tugas yang sama. beliau mencontohkannya kurang lebih demikian:
kita akan mengisi suatu array 7 sel dengan dua teknik.
pertama, kita menggunakan perintah loop, for,
for(i=0;i<=7;i++)
array[i]=i
kedua, kita menggunakan cara katrok,
array[1]=1
array[2]=2
array[3]=3
array[4]=4
array[5]=5
array[6]=6
array[7]=7

manakah coding yang lebih green? ternyata, coding yang katrok justru menang dalam hal waktu eksekusi daripada coding yang cool, yang menggunakan looping. terkejut? seharusnya tidak, karena dalam perintah for tadi, selalu dilakukan pengecekan apakah i<=7 atau tidak setiap kali akan mengeksekusi perintah array[i]=i. simpulannya? tidak selamanya coding yang pendek itu baik, justru coding yang dianggap katrok ternyata lebih green dan cepat dibanding coding yang cool tadi. mengapa harus cepat? ya karena semakin cepat, tandanya semakin ringan tugas hardware dalam menjalankan suatu tugas, dan akhirnya hemat energi deh...

namun, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. bisakah dibuat suatu software yang levelnya tinggi, tetapi tidak membutuhkan resource hardware yang tinggi? misalnya, kita tahu bahwa game-game jaman sekarang membutuhkan kartu grafis yang yahuut agar bisa dimainkan. saya sih sempat mengacungkan jari sewaktu diberi kesempatan bertanya saat seminar, tetapi beruntungnya yang tanya lumayan banyak, jadi saya tidak ditunjuk sama moderator.

oke lah, saya coba jawab sendiri...(lho!??...:) menginginkan sesuatu yang luar biasa dengan modal pas-pasan adalah hasrat kebanyakan manusia... untuk pergi ke saudi arabia ketika menunaikan ibadah haji, agar cepat sampai, kita tentu menggunakan pesawat, kalau pakai becak, ya kira-kira berbulan-bulan baru bisa sampai... itu jawaban saya... lho? serius! intinya adalah, fakta dan analogi-analogi sudah cukup untuk menjawab pertanyaan saya, kalau mungkin kamu menemukan suatu kasus yang bertentangan dengan analogi yang saya kemukakan, barangkali suatu saat windows vista bisa berjalan di pentium I. kenapa tidak...!

gambar screenshot game di atas diambil dari http://www.gamerslore.com/

Read more...

sehabis ikut seminar... part I

>> Friday, December 26, 2008



kemarin sabtu, 20 desember 2008, saya mengikuti seminar nasional yang diselenggarakan oleh jurusan saya sendiri, bertempat di auditorium lantai lima gedung pascasarjana ugm. seminar ini termasuk dalam rangkaian lustrum ke-9 jurusan saya, dan kalau tidak salah inilah acara pamungkasnya. oh ya, tema yang diangkat dalam seminar itu adalah green computing: ict concerns toward energy.

green computing? apa itu? pertanyaan itu saya amati muncul di kepala beberapa teman yang kebetulan juga ikut seminar. maklum, anak elektro kalau berbicara tentang "green" itu, paling yang nyangkut ya green house effect, atau kalau warna yang ada kaitannya dengan elektro ya blue energy. namun, sebenarnya kami tidak sekatrok itu kok...:). ya paling tidak, kami mecoba menerka-nerka arti green computing sebagai computing yang ramah lingkungan... itu tidak aneh, karena computing itu juga kerjaan anak-anak elektro, khususnya konsentrasi sistem komputer dan informasi. apalagi, ini adalah isu yang hangat di dunia ict, jadi tak salah kalo kita-kita dari elektro yang bicara...

dalam seminar ini, konsep green computing dibahas tuntas dari a sampai z. maklum, pembicara yang datang tidak tanggung-tanggung, mereka adalah ahli di bidangnya masing-masing, dan cukup representatif untuk mewakili lahan ict, yang meliputi information technology dan communication technology : pak Sasongko, pak Romi, mas Lingga, Pak Ridy, dll.

satu poin dasar yang penting dan patut dicatat bahwa isu green computing tidak bisa lepas dari masalah penghematan energi, begitu kira-kira yang disampaikan pak Sasongko dan pak Romi ketika mengawali seminar. ya, tidak ada satu peranti ict pun yang tidak membutuhkan energi. maka, kaitan wajar antara ict dan power system ini ujung-ujungnya bermuara pada isu klasik: bagaimana melakukan segala sesuatu secara efektif dan efisien, khususnya dalam hal pemakaian energi. intinya, green computing, seperti yang kami terka-terka sebelumnya, adalah upaya menjadikan teknologi computing semakin hemat energi. mengapa harus hemat energi? saya kira kalian semua sudah tahu.

hemat energi? ict berkata: bisa!!!. solusi yang ditawarkan banyak dan bervariasi, dari sisi hardware, software, bahkan dari aspek-spek sosial, seperti dari sisi pengguna peranti ict itu sendiri. poin kedua inilah yang coba untuk disampaikan pak Romi, mas Lingga, pak Ridy, dst.

BERSAMBUNG

Read more...

mengapa saya memilih stl... part V

>> Friday, December 5, 2008

saya tak menyangka postingan part V ini ternyata sudah ditunggu-tunggu teman saya... (seperti update-an antivirus saja... : ) mengapa ya? saya juga tidak tahu dan mungkin saya akan membiarkannya tetap menjadi misteri. sepertinya itu karena pada keempat postingan yang lalu saya menyebut kendali melulu, seolah-olah ketenagaan hanyalah pemain latar saja dalam postingan saya selama ini... kelihatan tidak sesuai dengan judulnya memang: "mengapa saya memilih stl..." ok! sekarang kita berbicara tentang ketenagaan.

tak tahu harus mulai dengan kata-kata seperti apa... saya sepertinya telah jatuh cinta pada teknik pembangkitan energi listrik, dan rasa-rasanya begitu terharu dengan teknik instalasi. maksudnya?

terbayang di kepala, ketika besok saya berkarya di pembangkit listrik, menghabiskan waktu saya dengan penuh harapan agar setiap manusia Indonesia bisa diterangi lampu di kegalapan malam, bisa belajar, nonton TV, bisa dengerin radio... sungguh-sungguh kebahagiaan yang tak tertahankan ketika melihat tukang sampah, pedagang angkringan, satpam, petani, dan siapapun yang memeras keringat demi perut keluarganya... (kecuali para koruptor, demonstran, dan yang sejenis dengannya) ...bisa melepas lelah di malam hari sambil melihat anak-anaknya belajar menggapai cita-cita, walaupun mereka hanya ditemani sebuah lampu...*
*)walaupun kadang-kadang saya merasa terhina ketika orang-orang kaya (atau sok kaya) begitu enaknya menyalakan lampu untuk something yang tak masuk akal... saya kira something itu tak perlu disebutkan di sini... cuma bikin kotor aja!

pun terbayang di kepala saya, ketika besok saya bisa membuatkan rancangan instalasi rumah bagi orang-orang, membayangkan mereka bisa menikmati listrik yang layak dan (harapannya) murah... sungguh-sungguh melambungkan hati...

BERSAMBUNG

Read more...