being paperless : still a dilemma?

>> Monday, February 23, 2009



semester baru, buku baru. itu lumrah dan saya tidak terkejut jikalau ternyata kebanyakan teman saya memang masih merasa nyaman dengan membaca sebuah buku saat belajar. namun entah mengapa, akhir-akhir ini, saya lebih menyukai membaca buku versi elektronik (ebook) daripada buku yang biasanya. so what? ingat akan pesan Pak Rommy saat seminar dulu: please, be paperless., saya jadi penasaran, apa sih manfaat paperless? benarkah paperless memberikan solusi yang ramah lingkungan sebagaimana didengung-dengungkan, misalnya demi penghematan energi?

adalah suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa buku konvensional dibuat dari kertas, tetapi juga merupakan kenyataan lain pula bahwa kertas berasal dari kayu pohon. sayang, kenyataan terakhir inilah yang sering kita lupakan. yang saya ingin katakan di sini adalah bahwa opsi paperless paling tidak dapat menghindarkan kita dari menebang pohon hanya untuk membuat kertas, sebuah cara yang tentunya sangat didukung oleh kampanye pro-lingkungan. namun, seandainya kertas konvensional masih digunakan (dan sepertinya akan terus digunakan), pun penebangan pohon tetap bisa dikurangi, misalnya dengan menggunakan kertas daur ulang (atau bahan baku alternatif lain?).

ups... bukankah buku versi elektronik mutlak memerlukan energi listrik. jadi? benarkah bahwa jumlah energi yang kita gunakan ketika membaca ebook adalah lebih kecil dari kerugian akibat menebang pohon, walaupun katakanlah, kita sudah menggunakan kertas renewable? pertanyaan ini masih menjadi misteri bagi saya.

BERSAMBUNG

gambar tumpukan kertas di atas diambil dari http://www.trainsignaltraining.com/my-first-it-certification-part-16-comptia-a/2007-12-14/
gambar laptop di atas diambil dari http://blogs.sun.com/geertjan/entry/nirvana_is_a_paperless_office

0 comments: