belajar entrepreneurship dari ahli (catatan kuliah studium generale) part II

>> Thursday, April 2, 2009

continued from part I...

Pembicara pada pertemuan kedua adalah Pak Saptuari, pendiri Kedai Digital, sebuah usaha di bidang kerajinan, yaitu pembuatan pin, mug, kaos, dsb yang sangat unik karena pelanggan dapat memesan agar desainnya sesuai dengan seleranya. Keunikan inilah yang saya rasa membuat Kedai digital cepat diterima pasar, dan akhirnya mampu berkembang dan eksis dengan beberapa cabang di kota-kota besar di Indonesia.

Kesan pertama saya ketika mendengarkan kuliah dari Pak Saptuari adalah beliau itu tidak punya rasa malu... :), artinya berani berbicara di depan publik untuk mengutarakan ide-ide kreatifnya (beliau menyebutnya ide gila), berani mengambil risiko, berani berdarah-darah untuk mencapai kesuksesan. Poin penting inilah yang memang selayaknya dimiliki oleh seorang entrepreneur, ia harus mampu meyakinkan orang-orang di sekitarnya tentang apa yang ia tawarkan kepada mereka. Beliau, menyebut skill ini dengan putusnya urat malu.

Skill kedua yang juga harus dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah kreativitas, pola pikir yang out of the box, kemampuan memoles sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, atau paling tidak terlihat luar biasa. Hal ini dilakukan beliau dengan mendesain kerajian sesuai selera atau pesanan pelanggan, hal yang jarang atau bahkan belum pernah terpikirkan oleh pengusaha kerajinan sejenis. Menurut saya, semua orang mempunyai sisi kreatifnya sendiri-sendiri. Beberapa di antara mereka berhasil mengeksploitasi sisi itu secara maksimal, sedangkan sisanya hanya mengesampingkannya, hanya ikut-ikutan saja. Beliau menyebutkan bahwa, sumber kreativitas adalah otak kanan, sehingga saran beliau pada kami yang hampir setiap hari hanya menggunakan otak kiri saja, untuk berlatih berimajinasi untuk mengaktifkan otak kanan.

Salah satu yang mengejutkan saya, adalah beliau tidak memungkiri bahwa modal finansial itu memiliki peran yang cukup penting dalam membangun suatu usaha mandiri, hal mana yang jarang diakui oleh pembicara atau motivator kebanyakan. Tips beliau agar seseorang yang berniat menjadi entrepreneur mampu membangun kemantapan finansialnya adalah dengan memutar modal, artinya dengan modal seadanya, berusaha sedikit demi sedikit membuat modal itu beranak melalui usaha kecil-kecilan terlebih dahulu sampai modal akhirnya dirasa mencukupi untuk memulai usaha yang sebenarnya dahulu. Tentu saja, untuk mempraktikkan hal ini, diperlukan pengetahuan menajemen dan ekonomi. Oleh karena itu, beliau juga menasihati agar kami tidak melupakan untuk membaca buku-buku manajemen atau ekonomi, juga buku motivasi, di samping buku-buku kuliah.

Hal lainnya yang menarik bagi saya adalah pemikiran beliau tentang menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau pegawai suatu perusahaan secara umum. Beliau menyodorkan fakta bahwa jumlah lowongan kerja, khususnya di Indonesia, tidaklah mencukupi bagi seluruh calon tenaga kerja. Artinya, hampir dapat dipastikan bahwa jika orang-orang tetap pada pendirian lama, yaitu melamar kerja begitu lulus, sebagian di antara mereka akan tidak mendapatkan pekerjaan, atau paling tidak sulit mendapat pekerjaan. Menurut saya, hal itu memang benar. Menjadi pegawai, baik PNS maupun karyawan perusahaan, bukanlah suatu kesalahan, itu adalah pilihan hidup. Yang mungkin agak kurang tepat adalah pemikiran kita bahwa satu-satunya sumber nafkah hanyalah menjadi PNS dan yang sejenisnya. Sekarang, sudah zamannya kita menciptakan peluang sendiri*.
*)kalau Anda berkenan, silakah baca postingan saya berjudul "tentang CPNS"

0 comments: